Social Icons

Wednesday, December 10, 2014

Batik Trendi Model Batik Zaman Sekarang

Lewat usaha batik yang diberi nama batik {bi}, lima sekawan Gita Ratna Gilangkencana (40), Ade Krisnawati Utomo (39), Camelia Anwar (40), Helen Dewi Kirana (40), dan Widianawati (40) menyulap batik menjadi produk yang bisa diterima siapa saja.


Usaha ini berawal dari keprihatikan Gita melihat kondisi batik di Indonesia. “Selama ini batik hanya dikenakan saat acara-acara resmi,” kata Gita yang sudah bersahabat sejak TK dengan 4 temannya, kecuali Ade. Padahal, lanjut wanita yang sejak kecil “dipaksa” ibunya untuk mencintai dan mengenakan batik ini, ia sering melihat anak-anak muda India dengan bangganya menggunakan kain sari saat mereka pergi ke tempat umum.

Camelia membenarkan, di antara 5 sekawan ini memang Gita yang sejak muda paling getol memakai batik. “Tapi batik yang dipakai adalah baju batik dengan model trendi, bukan model baju seperti orangtua. Jadi kelihatannya cantik, dan kami pun nge-klik,” papar Camelia. Gita pula yang mengajak 4 temannya untuk “mengkampanyekan” batik agar bisa diterima segala usia.

Gagasan membuat batik tampil modern sebenarnya sudah muncul lama, tahun 2000. Berhubung kesibukan masing-masing, baru tahun 2006 lalu ide ini terlaksana. Proses menularkan “virus” batik ternyata bukan pekerjaan mudah.

Beragam cara dilakukan 5 sekawan ini, salah satunya dilakukan Gita ketika menghadiri pesta. Ia tak lagi mengenakan kebaya ketika menghadiri pesta, tetapi menggunakan baju pesta dengan motif batik.

Sering Ditiru

Ternyata, usaha ini mulai membuahkan hasil. Belakangan lima sahabat ini menemukan resep jitu untuk mengobarkan penggunaan batik. “Awalnya kami lebih fokus ke model baju, bukan motifnya,” tandas Ade. Ternyata, upaya ini membuahkan hasil. Dengan baju-baju model terkini, batik mudah diterima masyarakat.

Ada cara unik yang mereka lakukan untuk mengetes pasar sebelum produk diluncurkan. Mereka membuat 1 atau 2 contoh dan mereka kenakan sendiri. Dari “etalase berjalan,” mereka akan mendapat masukan, apakah baju baru yang mereka kenakan menarik minat orang atau tidak. “Jika komentarnya positif, baru kami produksi lebih banyak.”

Sampai saat ini, sudah ratusan bahkan ribuan model baju keluaran batik [bi], bahkan desain batik [bi] kerap ditiru. Salah satunya model baju batik kalung, yakni batik ditambah aksesori kalung. “Dulu, kami yang memulai model begini,” tambah Gita.

Batik [bi] tak hanya mengolah batik, tetapi juga mengaplikasikannya dengan jenis kain lain. Beberapa produk batik [bi] juga tampak cantik dan unik dengan beragam aplikasi aksesori seperti manik-manik, bulu, dan lain-lain. “Kami yang memelopori baju batik kalung, baju dengan aksesori kalung manik-manik,” kata Gita.

Batik [bi] juga mengangkat batik lawas. Batik dengan warna-warna pucat itu disulap menjadi baju-baju trendi. Caranya dipadukan dengan kain lain. Salah satu inovasi batik (bi) adalah batik gempa, yang dibuat warga Bantul yang tertimpa musibah gempa. Di setiap baju dari batik gempa, selalu ada nama dan alamat si pembuatnya. “Jadi pembeli mendapat tambahan nilai lagi,” sela Ade.

Yang kini sedang dikembangkan dan merupakan penemuan batik [bi] adalah batik eyelet, yakni batik dari kain eyelet yang berlubang-lubang. “Enggak mudah lo, membatik di kain ini, tapi kami sudah menemukan tekniknya. Bisa dibilang, batik eyelet ini temuan kami,” tambah Ade.

Soal harga, “Pokoknya, menjangkau semua lapisan,” kata Ade. “Mahal itu relatif. Batik (tulis atau cap) prosesnya, kan, lama. Jadi wajar, kalau harganya juga beda. Jangan bandingkan dengan kain print,” tambah Gita yang tak menganggap kain print dengan motif batik sebagai batik. “Batik itu ya, yang prosesnya ditulis atau dicap. Kalau diprint bukan batik.”
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Miliki Segera

 photo BP128.jpg

Minat? Klik Gambarnya

 photo BP129.jpg

Klik Gambar

 photo BP127.jpg
 
Blogger Templates